Bisnis "Kantor Instan" Tumbuh Subur

Bisnis sewa kantor berlayanan atau serviced office makin menjanjikan. Menurut hitungan konsultan properti, Knight Park, dalam dua tahun mendatang pasokan virtual office, istilah lain kantor berlayanan, bakal tumbuh 50 persen atau ada tambahan 10.980 meter persegi.

Menurut Fakky Hidayat, Senior Associate Director PT Wilson Properti Advisindo (Knight Frank Indonesia), predikat layak investasi (investment grade) Indonesia menjadi faktor pendorong para pebisnis mulai berinvestasi di sini. Sebagian besar memang masih mengarahkan perhatian di Jakarta. Tak heran, bisnis sewa kantor ini masih berada di Ibu Kota.

Fakky meyakini, perhitungannya tak meleset. Keyakinannya didasari setelah melihat pasokan layanan kantor sewa mengalami kenaikan dua kali lipat tahun lalu menjadi 21.696 meter persegi.

Hingga saat ini tercatat ada beberapa perusahaan yang menjalankan bisnis ini. Para operator tersebut adalah Regus, CEO Suite, Executive Center, Marquee, Fortice, Nomad Offices, Jakarta Serviced Office, Prestige, dan HQ Global.

Berdasarkan pantauan Knight, kawasan kantor berlayanan di daerah Sudirman menempati porsi jumlah pasokan terbanyak, yakni sekitar 50,2 persen. Lantas kawasan Jalan Thamrin sekitar 26,6 persen dan kawasan Kuningan sebesar 23,2 persen. Tak ayal kawasan jenis kantor layanan ini berada di kawasan pusat bisnis atau central business distric (CBD) Jakarta.

Tingkat hunian (okupansi) kantor yang bisa disewa harian bak hotel ini juga tak kalah dengan hotel bujet yang lagi ngetren.

"Hampir seluruh operator mampu membukukan tingkat okupansi yang tinggi, rata-rata 90 persen," kata Fakky.

Jika ditelaah lebih lanjut, ruang kantor yang juga bisa disebut kantor instan ini yang berada di kawasan Kuningan punya tingkat hunian yang tertinggi yakni sekitar 92,3 persen. Kemudian diikuti kantor instan di kawasan Thamrin sekitar 90,7 persen dan kawasan Sudirman berada di posisi buncit, yakni sebesar 86 persen.

Sebagian besar para penyewa adalah ekspatriat. Dengan komposisi 70 persen asing dan sisanya pebisnis lokal. Mayoritas pebisnis bergerak di bidang asuransi, keuangan, migas, pertambangan, dan teknologi informasi.

Tarif sewa pun naik

Yang menarik, mulai tahun ini, arah perkembangan lokasi kantor instan tak melulu berkutat di kawasan segitiga emas Jakarta saja. Ada kecenderungan, para operator mulai mengarahkan perhatian ke wilayah Jakarta Selatan. Terutama di sepanjang Jalan T.B. Simatupang. Di areal ini, sebagian besar perusahaan migas dan pertambangan berkantor di wilayah ini. Sudah begitu, pembangunan gedung perkantoran di wilayah ini pun lagi tumbuh.

Anton Sitorus, Associate Director Head of Research Jones Lang Lasalle mengatakan, para operator mulai menambah areal kantor instan di wilayah Selatan Jakarta ini.

"Setiap ada pembangunan gedung baru di wilayah T.B. Simatupang, pasti operator serviced office bakal menyewa satu atau dua lantai di gedung tersebut," paparnya.

Hasan Pamudji, Senior Research Manager Knight Frank memperkirakan bakal terjadi pergeseran areal pasokan baru kantor instan dalam dua tahun mendatang. Tambahan kantor instan di Sudirman dan Thamrin sudah tidak terlalu banyak lagi.

"Saya perkirakan pasokan di Sudirman sekitar 18,2 persen saja," katanya.

Daerah yang bakal mendapat pasokan kantor instan lebih banyak adalah kawasan Kuningan yakni sekitar 49,4 persen. Menyodok ke posisi kedua adalah kawasan T.B. Simatupang dengan jumlah tambahan pasokan sebesar 32,3 persen.

Meski bakal ada daerah baru, para operator perkantoran, menurut Fakky, akan tetap bisa tersenyum. Pasalnya, tarif sewa kantor instan di tahun 2012 ini bakal naik antara 10 persen−15 persen dibandingkan tahun 2011. Tahun lalu saja, tarif sewa layanan ini sudah naik sekitar 5%−10%, terutama yang berada di kawasan CBD di Jakarta.

Saat ini tarif sewa kantor instan di kawasan Sudirman sekitar Rp 9 juta−Rp 23 juta per bulan, kemudian di Kuningan Rp 8 juta−Rp 15 juta per bulan dan di daerah Thamrin Rp 9 juta−Rp 20 juta. (Muhammad Yazid)

Sumber : Kompas.com